TUGAS PSIKOLOGI MANAJEMEN
Nama : ARFIANTO CATUR ISKANDAR
Npm : 10507024
Kelas : 3 PA 05
“Sikap Pekerja & Kepuasan Kerja”
Ada beberapa definisi kepuasan kerja antara lain :
1. Kepuasan kerja merupakan penilaian dari pekerja yaitu seberapa jauh pekerjaan secara keseluruhan memuaskan kebutuhannya. (Robert Hoppecl New Hope Pensyvania).
2. Kepuasan kerja berhubungan dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaan itu sendiri,situasi kerja, kerja sama, antar pemimpin dan sesama keryawan (Tiffin).
3. Kepuasan kerja merupakan sikap umum yang merupakan hasil dari beberapa sikap khusus terhadap faktor- faktor pekerjaan, penyesuian diri dan hubungan sosial individu di luar kerja (Blum) .
4. Kepuasan kerja pada dasarnya adalah ” security feeling” (rasa aman) dan mepunyai segi-segi :
a. Segi sosial ekonomi (gaji dan jaminan sosial).
b. Segi sosial psikologi :
- Kesempatan untuk maju
- Kesempatan mendapatkan penghargaan
- Berhubungan dengan masalah pengawasan
- Berhubungan dengan pergaulan antara karyawan dengan karyawan dan antara keryawan dengan atasannya. (Sutrisno Hadi ’Analisa Jabatan dan Kegunaannya’. Bulletin Psychology).
Dapat disimpulkan dari pendapat beberapa ahli di atas bahwa kepuasan kerja merupakan suatu sikap yang positif yang menyangkut penyesuaian diri yang sehat dari para karyawan terhadap kondisi dan situasi kerja, termasuk di dalamnya upah , kondisi sosial, kondisi fisik dan kondisi psikologis.
Ciri-ciri Pekerja yang Memiliki Kepuasan Kerja dan yang Tidak
Menurut Herzberg (1959),
ciri perilaku pekerja yang puas adalah mereka mempunyai motivasi untuk bekerja yang tinggi, mereka lebih senang dalam melakukan pekerjaanya, sedangkan ciri pekerja yang kurang puas adalah mereka yang malas berangkat ke tempat bekerja dan malas dengan pekerjaanya. Tingkah laku karyawan yang malas tentunya akan menimbulkan masalah bagi perusahaan berupa tingkat absensi yang tinggi, keterlambatan kerja, dan pelanggaran disiplin yang lainnya. Sebaliknya tingkah laku karyawan yang merasa puas akan lebih menguntungkan bagi perusahaan.
Faktor-Faktor Kepuasan Kerja
Harold E. Burt, mengemukakan pendapat tentang faktor-faktor yang ikut menentukan kepuasan kerja sebagai berikut :
1. Faktor hubungan antar karyawan
2. Faktor-faktor Individual
3. Faktor-faktor luar
Pendapat Gilmer (1966) tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja sebagai berikut :
1. Kesempatan untuk maju
2. Keamanan kerja
3. Gaji
4. Perusahaan dan manajemen
5. Pengawasan (Supervisi)
6. Faktor intrinsik dari pekerjaan
7. Kondisi kerja
8. Aspek sosial dalam pekerjaan
9. KomunikasiFasilitas
Menurut Baron dan Greenberg, terdapat tiga kategori utama hal-hal yang berhubungan dengan kepuasan kerja, yaitu :
1. Faktor Organisasi
Yaitu sistem imbalan (reward) meliputi; promosi, kebijakan organisasi, dan kualitas pengawasan yang dirasakan oleh karyawan.
2. Faktor Pekerjaan dan Work Setting
Yaitu meliputi beban kerja secara keseluruhan, variasi tugas, tingkat pencahayaan, jumlah sekat di sekeliling karyawan, dan lingkungan sosial.
3. Faktor Karakteristik Personal
Yaitu meliputi self esteem, kepribadian, dan usia 28.
Menurut pendapat Gilmer faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja adalah:
1. Kesempatan untuk maju, yaitu kesempatan untuk memperoleh pangalaman dan peningkatan kemampuan selama bekerja.
2. Keamanan kerja, yaitu sebagai penunjang kepuasan kerja dan keadaan yang aman sangat mempengaruhi perasaan karyawan selama bekerja.
3. Gaji, yaitu gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan, dan jarang orang mengekpresikan kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang yang diperolehnya.
4. Perusahaan dan Manajemen yang baik adalah yang mampu memberikan situasi dan kondisi kerja yang stabil.
5. Pengawasan (Supervisi), bagi karyawan, supervisor dianggap sebagai figure ayah dan sekaligus atasannya. Supervisi yang buruk dapat berakibat absensi dan turnover.
6. Komunikasi, yaitu memahami dan mengakui pendapat ataupun prestasi karyawan sangat berperan dalam menimbulkan rasa puas terhadap pekerjaan.
7. Faktor intrinsik dari pekerjaan, yaitu atribut yang ada pada pekerjaan mensyaratkan ketrampilan tertentu.
8. Kondisi kerja, yaitu kondisi tempat, ventilasi, penyinaran, kantin, dan tempat parkir.
9. Aspek sosial dalam pekerjaan, merupakan salah satu sikap yang sulit digambarkan, tetapi dipandang sebagai factor yang menunjang puas atau tidak puas dalam kerja.
10. Fasilitas yang diberikan perusahaan seperti, rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa puas.
Dampak dari Kepuasan dan Ketidakpuasan Kerja.
Dampakterhadap Produktivitas
Produktivitas dipengaruhi oleh banyak faktor-faktor moderator di samping kepuasan kerja. Lawler dan Porter mengharapkan produktivitas yang tinggi menyebabkan peningkatan dari kepuasan kerja hanya jika tenaga kerja mempersepsikan bahwa ganjaran intrinsik dan ganjaran ekstrinsik yang diterima kedua-duanya adil dan wajar dan diasosiasikan dengan unjuk kerja yang unggul.
Contohnya dampak ketidakpuasan kerja: Demontrasi buruh sepeda motor kymco didepan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jl Gajah Mada, Gambaran seperti ini dapat dilihat dengan klik link di bawah ini :
http://www.youtube.com/watch?v=6rjBQX8bY2c
Dampak terhadap Ketidakhadiran (Absenteisme) dan Keluar Tenaga Kerja (Turnover)
Porter dan Steers berkesimpulan bahwa ketidakhadiran dan berhenti bekerja merupakan jenis jawaban-jawaban yang secara kualitatif berbeda. Dari penelitian ditemukan tidak adanya hubungan antara ketidakhadiran dengan kepuasan kerja. Steers dan Rhodes mengembangkan model dari pengaruh terhadap ketidakhadiran, mereka melihat adanya dua faktor pada perilaku hadir yaitu motivasi untuk hadir dan kemampuan untuk hadir.
Model meninggalkan pekerjaan dari Mobley, Horner dan Hollingworth, mereka menemukan bukti yang menunjukan bahwa tingkat dari kepuasan kerja berkolerasi dengan pemikiran-pemikiran untuk meninggalkan pekerjaan, dan bahwa niat untuk meninggalkan kerja berkolerasi dengan meninggalkan pekerjaan secara aktual. Ketidakpuasan diungkapkan ke dalam berbagai macam cara selain meninggalkan pekerjaan, karyawan dapat mengeluh , membangkang,menghidar dari tanggung jawab dan lain-lain.
Dampak terhadap Kesehatan
Salah satu temuan yang pentingdari kajian yang dilakukan oleh Kornhauser tentang kesehatan mental dan kepuasan kerja. Meskipun jelas bahwa kepuasan berhubungan dengan kesehatan , hubungan kausal masih tidak jelas. Diduga bahwa kepuasan kerja menunjang tingkat dari fungsi fisik dan mental dan kepuasan sendiri merupakan tanda dari kesehatan. Tingkat dari kepuasan kerja dan kesehatan saling berkesinambungan peningkatan dari yang satu dapat mempengaruhi yang lain, begitupun sebaliknya jika terjadi penurunan.
Kepuasan kerja merupakan sikap positif yang menyangkut penyesuaian karyawan terhadap faktor-faktor yang, mempengaruhinya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kerja, meliputi :
- Faktor Kepuasan Finansial, yaitu terpenuhinya keinginan karyawan terhadap kebutuhan finansial yang diterimanya untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari sehingga kepuasan kerja bagi karyawan dapat terpenuhi. Hal ini meliputi; system dan besarnya gaji, jaminan sosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan serta promosi (Moh. As’ad,1987: 118).
- Faktor Kepuasan Fisik, yaitu faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan. Hal ini meliputi; jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja dan istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruangan/suhu, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan dan umur (Moh. As’ad,1987:117).
- Faktor Kepuasan Sosial, yaitu faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial baik antara sesama karyawan, dengan atasannya maupun karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya. Hal ini meliputi; rekan kerja yang kompak, pimpinan yang adil dan bijaksana, serta pengarahan dan perintah yang wajar (Drs.Heidjrachman dan Drs. Suad Husnan.1986: 194-195).
- Faktor Kepuasan Psikologi, yaitu faktor yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan. Hal ini meliputi; minat, ketentraman dalam bekerja, sikap terhadap kerja, bakat dan keterampilan (Moh.As’ad,1987: 11.7).
Dari definisi faktor-faktor diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa faktor-faktor tersebut mempengaruhi kepuasan kerja yang memiliki peran yang penting bagi perusahaan dalam memilih dan menempatkan karyawan dalam pekerjaannya dan sebagai partner usahanya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atau sepantasnya dilakukan.
Fungsi kepuasan kerja
a. Untuk meningkatkan disiplin karyawan dalam menjalankan tugasnya. Karyawan akan datang tepat waktu dan akan menyeleseikan tugasnya sesuai dengan waktu yng telah ditentukan.
b. Untuk meningkatkan semangat kerja karyawan dan loyalitas karyawan terhadap perusahaan (Luthans, 1998:126)
Cara Menghindari Ketidakpuasan Kerja
Kepuasan Kerja karyawan sangat dipengaruhi oleh berbagaio faktor, jika faktor pemuas ini tidak diperoleh oleh karyawan maka akan muncul ketidak puasan yang dapat memunculkan perilaku negatif karyawan, Untuk menghindari konsekuensi perilaku negatif dari ketidakpuasan karyawan, maka ada beberapa cara untuk menghindari ketidakpuasan kerja tersebut:
a. Membuat pekerjaan menjadi menyenangkan
Karyawan akan merasa puas apabila karyawan tersebut menikmati pekerjaannya daripada mereka merasa bosan. Walaupun beberapa pekerjaan memang membosankan tetapi sangat memungkinkan membuat suatu pekerjaan menjadi menyenangkan.
b. Pemberian gaji yang adil
Karyawan akan merasa tidak puas kalau sistem penggajian di organisasi mereka tidak adil. Jika karyawan merasa sistem penggajian di perusahaan adil, maka mereka akan puas.
c. Right Person in the Right Place
Seorang karyawan ditempatkan pada pekerjaannya yang sesuai dengan kemampuan, dan personality mereka. Hal ini dapat menimbulkan kepuasan kerja bagi karyawan tersebut karena dapat mengembangkan dan menggunakan kemampuan yang sesuai dengan personality dan pekerjaannya.
d. Menghindari kebosanan dalam pengulangan pekerjaan
Banyak orang ingin menemukan sedikit kepuasan dalam melaksanakan pekerjaan yang berulang-ulang dan membosankan. Dalam two-factor theory, karyawan akan merasa lebih puas apabila diperbolehkan melakukan tugasnya dengan caranya sendiri.
Indikator Pengukuran Kepuasan Kerja
Penelitian dari Spector (Yuwono, 2005, p. 69) mendefinisikan kepuasan sebagai cluster perasaan evaliatif tentang pekerjaan dan ia dapat mengidentifikasikan indikator kepuasan kerja dari sembilan aspek yaitu :
1. Upah : jumlah dan rasa keadilannya
2. Promosi : peluang dan rasa keadilan untuk mendapatkan promosi
3. Supervisi : keadilan dan kompetensi penugasan menajerial oleh penyelia
4. Benefit: asuransi, liburan dan bentuk fasilitas yang lain
5. Contingent rewards : rasa hormat, diakui dan diberikan apresiasi
6. Operating procedures : kebijakan, prosedur dan aturan
7. Coworkers : rekan kerja yang menyenangkan dan kompeten
8. Nature of work : tugas itu sendiri dapat dinikmati atau tidak
9. Communication : berbagai informasi didalam organisasi (vebal maupun nonverbal)
Dimensi Kepuasan Kerja
Menurut Smith, Kendall, dan Hullin terdapat lima dimensi pada kepuasan kerja, yaitu :
a. Pimpinan yang adil, yakni sikap pimpinan yang tidak membedakan karyawan. Pimpinan yang mengerti kebutuhan karyawan dan mau menjalin hubungan baik, serta mampu menjadi contoh yang baik dalam hal disiplin.
b. Pekerjaan itu sendiri, yaitu meliputi beban kerja secara keseluruhan, variasi tugas, maupun pekerjaan yang memungkinkan adanya interaksi sosial.
Komponen-komponen Kepuasan Kerja
a. Menurut Yudha kepuasan kerja merupakan kombinasi dari beberapa komponen
pendekatan, yaitu :
Pendekatan Psikologi Sosial (the social psychological approach)
Berkaitan dengan bagaimana persepsi individu terhadap pekerjaan itu sendiri.
Pendekatan Ekonomi neo-klasik (neo -classical economic approach)
Berhubungan dengan berapa jumlah kompensasi yang diperoleh melalui pekerjaan tersebut guna memenuhi kebutuhan hidupnya (termasuk keluarganya).
Pendekatan Sosiologi (sociological approach)
Menekankan bagaimana kondidi hubungan interpersonal dalam konteks lingkungan sosial.
b. Menurut Greenberg dan Baron kepuasan kerja meliputi beberapa unsure
Komponen Evaluatif (evaluative component)
Adalah dasar afeksi (perasaan, emosi) yang berfungsi untuk menilai suatu objek.
Komponen Kognitif (cognitive component)
Yaitu mengacu pada unsure kecerdasan (intelektual) untuk mengatahui suatu objek, yakni sejauh mana individu mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan objek yang dimaksud.
Komponen Perilaku (behavioral component)
Adalah bagaimana individu menentukan tindakan terhadap apa yang diketahui ataupun yang dirasakan
Teori-teori Kepuasan Kerja
Teori Pertentangan (Discrepancy Theory)
Teori pertentangan dari locke menyatakan bahwa kepuasan atau ketidakpuasan terhadap beberapa aspek dari pekerjaan mencerminkan penimbangan dua nilai :
1. pertentangan yang dipersepsikan antara apa yang diinginkan seseorang individu dengan apa yang diterima
2. pentingnya apa yang diinginkan bagi individu.
Menurut Locke seseorang individu akan merasa puas atau tidak puas merupakan sesuatu yang pribadi, tergantung bagaimana ia mempersiapkan adanya kesesuaian atau pertentangan antara keinginan dan hasil keluarnya..
Model dari Kepuasan Bidang/ Bagian (Facet Satisfication)
Model Lawler dari kepuasan bidang berkaitan erat dengan teori keadilan dari Adams, menurut model Lawler orang akan puas dengan bidang tertentu dari pekerjaan mereka jika jumlah dari bidang mereka persepsikan harus mereka terima untuk melaksanakan kerja mereka sama dengan jumlah yang mereka persepsikan dari yang secara aktual mereka terima. Jumlah dari bidang yang dipersepsikan orang sebagai sesuai tergantung dari bagaimana orang mempersepsikan masukan pekerjaan, ciri-ciri pekerjaan,dan bagaimana mereka mempersepsikan masukan dan keluaran dari orang lain yang dijadikan pembanding.
Teori Proses-Bertentangan (Opponent-Proses Theory)
Teori proses bertentangan dari Landy memandang kepuasan kerja dari perspektif yang berbeda secara mendasar daripada pendekatan yang lain. Teori ini menekankan bahwa orang ingin mempertahankan suatu keseimbangan emosional (emotional equilibrium), berdasarkan asumsi bahwa kepuasan kerja yang bervariasi secara mendasar dari waktu ke waktu akibatnya ialah bahwa pengukuran kepuasan kerja perlu dilakukan secara periodik dengan interval waktu yang sesuai.
Daftar Pustaka
http://rischaaprilina.blogspot.com/2009/12/teori-kepuasan-kerja.html
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/04/teori-teori-tentang-kepuasan-kerja-dan.html
http://www.youtube.com/watch?v=5snpNp6MvAA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
nama saya achmad m.topik yang diangkat sangat bagus.tentunya perusahaan memperhatiakan yg namanya kepuasaan kerja agar menjadikan perusahaan yang terbaik.tapi sebaliknya apabila perusahaan hanya memikirkan keuntungan semata maka hasilnya jg tdk maksimal.dengan menggunakan sistim ourchorsing skg ini.apakah dizaman sekarang kepuasan pekerja itu udah terpenuhi?
BalasHapussaya Bayu, SaYa sangat setuju degan ArtikeL yg mengangkat tentang sikap dan kepuasan kerja, menurut saya, kepuasan dalam bekerja juga bisa di di dapatkan karena adanya kenyamanan seseorang di tempat kerja tersebut, dengan rasa nyaman yang ada dalam tempat keja, Maka secara otomatis seseorang akan bersemangt dalam melakukan semua pekrjaanya. dan seorang pekerja akan bekerja semaksimal mungkin. kemudian barulah seorang tersebut bisa merasa puas akan hasil kerjanya, dan kepuasan juga akan lebih di rasakan pekerka apabila mendapatkan PREDIKAT atau penghargaan yang di berikan oleh perusahaan.
BalasHapusTetapi yang saya dapati di banyak perusahaan sekarang adalah Kurangnya perhatian dan menghargai Prestasi pekerja, dan itu membuat para pekerja kurang PUAS dan kurang di hargai oleh perusahaan.....!!!!
Sikap dan kepuasan kerja adalah dua hal yang saling berkaitan erat, yang pertama adalah sikap kerja, jika seseorang memiliki sikap kerja yang baik, saya rasa secara otomatis kepuasan kerjapun mudah didapat. Karena tentunya seseorang akan menjadi optimis dengan segala yang dikerjakannya, dan itu akan menimbulkan semangat tinggi dalam bekerja sehingga meminimalisir rasa ketidanyamanan yang ada, karena orang yang menpunyai sikap kerja yang baik, akan selalu mengutamakan kerjasama yang baik dengan lingkungannya bekerja.
BalasHapussangat lengkap dan jelas
BalasHapusmaterinya lengkap,,
BalasHapusnamun akan lebih bgs lagi jika ditambahkan contoh dalam kehidupan sehari2..
menurut saya tulisan ini menarik, dapat memotivasi para pekerja pekerja yang lain dan banyak dituliskan pendapat-pendapat dari tokoh tokoh tentang kepuasan kerja.
BalasHapussmuanya penting bgt di terapkan dlm suatu perusahaan...
BalasHapusada jg hal yg penting yg harus di perhatikan jg,yaitu AGAMA..jgn smpai perbedaan agama menjadi batasan dalam hal berinteraksi antar atasan dgn bawahan.hal yg satu ini sangat sensitif....
bisa berdampak besar jika terjadi pengelompokan agama satu dgn yg lainnya dlm suatu perusahaan,akan menimbulkn rs yg tdk nyaman dan akhirnya berujung kepada sikap yg tdk baik dan tdk adanya kepuasan kerja...
teori di atas sangat bnar, karena sikap kerja dan kepuasan kerja sangat berhubungan sekali. apabila kita melakukan sikap kerja yang baik maka kita pasti akan mendapatkan kepuasan kerja. baik itu didapatkan dalam bentuk materi maupun nonmateri. oleh karena itu, untuk mendapatkan kualitas kerja yang baik, kita harus melakukan sikap kerja yang baik terlebih dahulu, sehingga kita nantinya bisa mendapatkan kepuasan kerja.
BalasHapusya memang bnar,
BalasHapussaya setuju dgn tulisan ini..antara pekerja n perusahaan hrs ada timbal baliknya, para pekerja hrs melakukan pekerjaannya dgn smaksimal mungkin n perusahaan hrs memberikan fasilitas-fasilitas kpd pekerja agar mrka lbh semangat dlm melekukan pekerjaannya..
stelah membaca tulisan ini,saya sngt stuju bngt..
BalasHapussharusnya memang antara para pekerja dan perusahaan harus saling melengkapi..
namun pada kenyataanya sekarang,pekerja merasa mereka telah melakukan pekerjaannya dengan baik,namun pd dasarnya mereka blm melakukan pekerjaannya scra maksimal, sehingga bnyak perusahaan yg tdk puas dengan hasil pekerjaan para karyawannya..
begitu jg perusahaan,mereka merasa tlh memberikan imbalan kpd para karyawannya, namun bnyak karyawannya yg tdk puas atas gaji yg mreka dpat. mungkin mereka merasa apa yg tlh mereka kerjakan tdk pantas/sesuai jika hnya mendapat imbalan sprti itu, pdhl itu semua sdh terdapat undang-undang,sprti tentang jam kerja, hari lbur, gaji, dsbnya..
stelah gw baca dkit.....fasilitas dalam suatu perushaan sngt perlu...agar karyawan yg bekerja dsna nyaman n karyawan na dpt meningkatkan kinerja nya. . .begitu jg pekerjana law dksh fasilitas jgn leha leha...simbiosis mutualisme...AADC
BalasHapusbagus ni, tengkyu bwt postnya, bagus ni jd referensi tugas
BalasHapuswahh,blh jg nihh tlisan bwt motivasi para pekerja agar bs menjalankan pekerjaannya dngn sebaik mungkin..dan jg perusahaan hrs memenuhi kbutuhan para pekerjanya spti fasilitas tuk bekerja,uang mkan,uang transport,dll..
BalasHapusmnurut saya klo bs,hapusakan yg nmanya ourchorsing..dngan adanya cara ourchorsing para pekerja sllu khwatir klau mau hbs masa krjanya..
Menurut saya kepuasan kerja itu sngat pnting bgi para pekerja, krna untuk memotivasi cra bekerja yg tinggi,n mereka pd senang dlm melakukan pkerjaannya.sdngkan pekerja yg krang puas adalah mereka bermalas-malasan untuk brngkat krja n pekerjaannya..tingkah laku pekerja yg mls tntunya menimbulkan masalah bagi perusahaan baik kurangnya absensi, keterlambatan kerja, n pelanggaran disiplin yg lain..sbaliknya tingkah laku karyawan yg sdh merasakan puas dlm bekerja tntu akan menguntungkan bagi perusahaan tersebut..
BalasHapusmemang benar, perusahaan hrs memperhatikan kepuasan pekerja, krna pekerja sdh meningkatkan n memaksimalkan tingkat disiplin dlm bekerja..
BalasHapussebaliknya jg para pekerja hrs memberikan yg terbaik tuk perusahaannya agar perusahaan itu smkin berkembang n maju..
ttpi, ada jg perusahaan yg tdk memikirkan bagaimana nasib para pekrjanya..